PEREMPUAN PERLU TAHU

Oleh: Isral, S.HI.
Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Dendang

Buku Bianglala 3 Warna: Pengakuan Hidup Seorang Wanita tulisan Roxana adalah potret buram ketidakmengertian perempuan terhadap hukum. Hukum perkawinan dalam hal ini. Dikisahkan, Roxana atau Dayang, perempuan dalam buku itu, menikah dengan laki-laki yang dikenalkan oleh pacar sahabatnya. Pernikahan ini berjalan selama dua hari lantas berlalu begitu saja tanpa kejelasan: cerai tidak, tetap sebagai suami istri jamaknya juga tidak. Mereka sudah tidak saling peduli lagi.

Dalam pada itu seorang lelaki sahabat masa kecil abangnya datang meminangnya. Roxana menerima pinangan tersebut. Sehingga pernikahan keduanya berlangsung setelah status Roxana “disulap” menjadi perawan. Berselang beberapa hari, tanda-tanda yang tak elok mulai bermunculan dan keduanya bersetuju untuk mengakhiri pernikahan mereka. Namun alangkah terkejutnya Roxana dengan pilihan cara mengakhiri pernikahannya kali ini. Oleh Ardian, suaminya itu, bukan perceraian yang didaftarkannya ke pengadilan melainkan pembatalan perkawinan. Alasannya pasal 27 ayat (3) Undang-undang Perkawinan: “Seseorang dapat mengajukan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau istri”. “Salah sangka” yang dimaksud adalah Ardian baru mengetahui bahwa Roxana masih terikat pernikahan dengan laki-laki lain setelah pernikahan mereka berlangsung selama dua tahun.
Salahkah Ardian dengan pilihan cara mengakhiri perkawinan dan alasannya? Tentu saja tidak. Sebab, “Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali dalam hal tersebut pada pasal 3 ayat (2) dan pasal 4 Undang-undang ini” (pasal 9 UU Perkawinan). Roxanalah yang seharusnya mengetahui pasal ini sebelum secara resmi menerima pinangan Ardian. Roxanalah yang seharusnya dari awal mengurus perceraian dengan suaminya terdahulu. Dan perceraian yang syah hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan (pasal 39 ayat (1) UU Perkawinan). Jadi tidak cukup dengan pernyataan pada selembar surat bermaterai saja seperti pemahaman Roxana.
Roxana-dengan pemahaman seperti itu-tidak sendiri di negeri ini. Ada banyak perempuan yang menganggap perceraian syah apabila sudah dinyatakan di atas kertas bermaterai bahkan menganggap perceraian otomatis terjadi setelah suaminya pergi meninggalkannya. Sebagian dari mereka kemudian menikah lagi dengan sedikit sulap di sana-sini. Seandainya upaya menyulap gagal, mereka bersedia menikah di bawah tangan. Akibatnya yang dirugikan di belakang hari hanya dirinya dan anak-anaknya sedangkan lelaki tak akan terkena dampak apapun. Kelihatan tidak adil memang. Tetapi begitulah fakta yang mengapung di ranah sosial hari ini dan akan terus bertambah jumlahnya jika tidak ada upaya sadar untuk menenggelamkannya. Upaya sadar itu bisa berupa mengenalkan hukum perkawinan dan hak asasi perempuan dalam perkawinan kepada perempuan.
Di Indonesia terdapat dua aturan tentang hukum perkawinan. Pertama Undang-undang No. 1 Tahun 1974 atau biasa disebut Undang-undang Perkawinan. Undang-undang ini berlaku untuk seluruh Warga Negara Indonesia dan, kedua, Intsruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991 atau dikenal dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Berbeda dengan Undang-undang Perkawinan, KHI hanya berlaku bagi kalangan muslim. Inilah fikih ala Indonesia.
Di dalam KHI terimplementasi dengan baik hak asasi perempuan dalam perkawinan. Hak-hak tersebut adalah: Hak untuk Menikah; Hak Menerima Penghasilan yang Diperlukan dari Suami; Hak Memperoleh Pemutusan Perkawinan; Hak Memperoleh Warisan dari Suami; Hak Memperoleh Kerahasiaan yang Ketat dari Suami; Hak Memperoleh Mahar/Maskawin; Hak Menuntut Monogami; Hak Menguasai Penuh Hartanya, dan; Hak Berdiam di Tempat Suaminya Tinggal.
Inilah beberapa hal yang perlu diketahui oleh perempuan dalam perkawinan selain banyak hal lainnya. Bukankah perempuan yang hebat adalah perempuan yang mengetahui banyak hal, bukannya yang memiliki banyak hal? Wa Allah A’lam bi al-shawab.[]

sumber: bangka pos, 10 juni 2011

sumber foto: moslemgaul.files.wordpress.com/2010/02/british_muslim_women.jpg&imgrefurl

2 Komentar (+add yours?)

  1. -
    Jun 23, 2011 @ 11:33:39

    Bagaimana jika punya anak mungkin ceritanya akan beda, Yang jelas wanita selalu merugi

    Balas

  2. pilimaryam
    Jul 14, 2011 @ 11:00:33

    Ya, kalau punya anak yang merugi jadi dua: wanita dan anak.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: